Selasa, 02 Oktober 2012

ADAT BATAK UNTUK ANAK CUCU


PESAN OMPUNG UNTUK ANAK CUCU


TENTANG ADAT BATAK

“Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.” (Yes 44:3b)

PENDAHULUAN


Pengalaman keluarga kita dalam melaksanakan acara adat Batak pada pesta pernikahan dan   pada acara pemakaman anggota keluarga yang meninggal mendorong Ompung[1] menuliskan pesan ini kepada anak cucu yang Ompung kasihi.

Dalam acara-acara adat Batak di keluarga besar kita, kerap terjadi polarisasi sikap yang melibatkan saudara-saudara kandung Ompung. Ada yang bersemangat melaksanakannya dan ada yang bersemangat menentangnya. Dalam beberapa acara, jalan keluarnya adalah sepakat untuk tidak sepakat, dan masing-masing menempuh sikap yang tidak melukai hati nuraninya. Ketidak sehatian ini dapat diamati oleh umum, bahkan dalam acara pemakaman ibu Ompung akhir tahun 2010 hanya dua orang dari saudara laki-laki Ompung yang ikut dalam acara adat Batak, sedangkan empat orang tidak ikut acara adat dan hanya hadir waktu acara ibadah  pemakaman yang dilayani gereja.

Situasi serupa juga dialami oleh banyak keluarga orang Batak yang mempunyai pandangan yang berbeda dan saling bertentangan dalam hal adat Batak. Hal ini tidak terlepas dari belum adanya kesehatian di kalangan orang-orang Batak tentang bagaimana adat Batak yang sesuai iman kristiani dalam konteks masyarakat majemuk dan moderen sekarang ini.

Pesan ini Ompung tuliskan dengan maksud agar anak cucu Ompung memahami masalah adat Batak  yang dihadapi oleh keluarga Batak pada umumnya dan keluarga kita pada khususnya sehingga dapat mengambil sikap yang menyukakan Tuhan. Hal ini sangat perlu agar anak cucu Ompung menikmati segala janji Tuhan untuk keturunan orang benar yang mengasihi Tuhan dan tidak dapat ditindas oleh kutuk keturunan yang menimpa orang-orang yang membenci Tuhan (Kel 20:5-6). Untuk itu perlu memahami latar belakang masalah adat Batak, cara menyeleksi praktek adat yang ada sekarang ini dan bagaimana implementasinya dalam keluarga kita, khususnya dalam acara pemakaman dan acara pernikahan.

A.   LATAR BELAKANG MASALAH


1.      Keadaan suku Batak sebelum Injil Kristus datang.


Suku Batak dipercayai sebagai keturunan Si Raja Batak, bermukim di daerah sekitar Danau Toba yang disebut daerah Tapanuli atau Tanah Batak. Suku Batak pada awalnya merupakan suku yang tertutup, mempunyai aksara, bahasa, seni dan tertib hidup yang tersendiri. Permusuhan-permusuhan antar marga/desa sering terjadi. Tradisi nenek moyang dipegang teguh sebagai adat Batak yang menguasai kehidupan suku. Agama suku Batak dikenal dengan istilah ‘sipelebegu’[2] pada dasarnya merupakan  pemujaan nenek-moyang. Adat Batak menolak perubahan karena perubahan dari adat kebiasaan merupakan penyimpangan yang fatal.[3]

Pada awalnya suku Batak menolak para pemberita Injil yang datang ke Tapanuli. Pada 1834, dua orang pemberita Injil yakni Munson dan Lyman yang berasal dari Amerika, dibunuh di Sisangkak oleh Raja Panggalamei, dan dagingnya dimakan.[4] Hal ini menunjukkan bahwa  suku Batak pada masa sebelum menerima Injil masih relatif terbelakang dalam segi peradaban dan bahkan masih ada yang bersifat kanibal.

Jadi dapat dikatakan bahwa adat Batak yang asli tercipta dan bertumbuh dari latar belakang suku Batak yang tertutup, terbelakang, sipelebegu, saling bermusuhan antar marga/desa. Pembaharuan adat Batak pada dasarnya baru mulai terjadi pada waktu Injil Kristus datang ke Tanah Batak.

2.      Keadaan suku Batak setelah Injil datang.


Tuhan yang mengasihi suku Batak meskipun suku Batak pada mulanya menolak Injil dan membunuh pemberita Injil, mengutus lagi para pemberita Injil ke Tanah Batak. Pada 1834 yakni tahun dibunuhnya Munson dan Lyman, I.L.Nommensen lahir. Pada 1861 Nommensen berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Batak dan pada 1864 bahkan membawa Injil kabar baik itu kembali ke Sisangkak, kepada Panggalamei yang telah membunuh Munson dan Lyman 30 tahun sebelumnya. Hal ini merupakan suatu demonstrasi kasih Tuhan yang dahsyat dan patut disyukuri semua orang Batak yang sudah diselamatkan Tuhan. Nommensen meninggal 1918 dan dimakamkan di Tapanuli. Suku Batak secara keseluruhan menerima Injil melalui pelayanannya, sehingga Nommensen dijuluki “rasul orang Batak”.

Kuasa pembaharuan yang dikerjakan oleh Tuhan menimbulkan perubahan dalam kehidupan suku  Batak. Suku Batak yang tadinya tertutup menjadi terbuka, tadinya terbelakang menjadi maju, tadinya sipelebegu menjadi penyembah Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Orang Batak yang tadinya sering bermusuhan dan saling membunuh menjadi orang Kristen yang pendamai bahkan banyak menjadi pembawa Injil damai sejahtera itu kepada orang-orang lain di dalam dan di luar Tapanuli. Dengan sendirinya adat Batak juga turut berubah.

3.      Pembaharuan adat Batak tidak tuntas.


Pembaharuan adat Batak agar sepadan dengan Injil awalnya digumuli dengan hati-hati oleh para pemberita Injil yang umumnya bukan orang Batak melainkan orang Barat. Semua tradisi yang berkaitan dengan agama suku Batak (kepercayaan sipelebegu) tidak sepadan dengan Injil Yesus Kristus, dan harus ditinggalkan oleh orang Kristen Batak. Salah satu diantaranya adalah gondang[5] yang menjadi bagian ritual agama suku Batak pada acara-acara adat dan berkaitan dengan sipelebegu (bukan sekedar seni musik Batak) tidak sepadan dengan Injil dan harus ditinggalkan. Juga segala bentuk tradisi yang berkaitan dengan  penyembahan nenek moyang harus ditinggalkan. Orang Kristen Batak tidak dikehendaki terlibat dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan agama suku Batak (sipelebegu) seperti margondang[6]. Ayah Ompung merupakan angkatan pertama orang Kristen Batak di Samosir. Dia sangat giat menghilangkan tradisi adat Batak yang jelas-jelas berkaitan dengan kepercayaan sipelebegu. Kami anak-anaknya (4 orang perempuan dan 7 orang laki-laki) dididik menurut ajaran Tuhan, tiap hari berdoa, baca Alkitab, bernyanyi. Tidak boleh ikut pesta gondang. Kakak perempuan yang kedua mempunyai ingatan khusus tentang itu. Waktu masih remaja dia pernah sembunyi-sembunyi ikut acara gondang dan setelah pulang/ketahuan, ia dipukul dengan lidi sampai ada berbekas di kakinya. Hal itu disaksikannya kepada tua-tua desa pada waktu ayah Ompung meninggal tahun 1983. Ompung baru mengerti dan bangga atas sikap ayah Ompung yang tidak kompromistis itu setelah Ompung diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan menghadapi peperangan rohani[7] seperti dialami ayah Ompung.

Kalau ayah Ompung sebagai orang Kristen angkatan pertama tidak kompromi dengan segala tradisi agama suku Batak yang tidak sepadan dengan Injil Kristus, maka seharusnya angkatan berikutnya harus lebih maju dalam hal hidup beriman menuju keserupaan dengan gambaran Kristus. Tugas para pemimpin gereja adalah memperlengkapi orang percaya menuju kepada kedewasaan penuh dalam Kristus dan tidak boleh tetap sebagai anak-anak yang masih dapat diombang-ambingkan oleh beraneka ragam ajaran yang menyesatkan.[8] Seharusnya orang Kristen Batak hidup semakin kudus, tidak boleh dicemari kembali oleh tradisi agama suku Batak yang sudah ditinggalkannya setelah menerima Injil Kristus.
Sayang, kenyataannya tidak demikian. Sejak permulaan tahun limapuluhan terjadi pembalikan arah kemajuan sebagaimana nyata dari maraknya pembangunan tugu-tugu dan patung-patung di Tapanuli yang merupakan bentuk perwujudan peninggian/ pemujaan nenek moyang.[9] Orang Kristen Batak mengalami kemunduran/ kekalahan menghadapi gerakan kebangkitan kembali tradisi agama suku Batak dengan berbagai bentuknya. 
Kemunduran ini menurut pendapat Ompung antara lain disebabkan oleh:

·         Munculnya pergolakan antar bangsa yang memaksa para pemimpin rohani yang berasal dari Barat meninggalkan Tapanuli ditengah-tengah proses pendewasaan rohani orang Kristen Batak yang belum mantap.

·         Munculnya ajaran teologi liberal di sekolah-sekolah tinggi teologi yang berdampak besar kepada para pemimpin gereja. Teologi liberal bersumber pada filsafat dan  tidak lagi mengakui adanya kebenaran absolut. Kebenaran dianggap relatif, tidak ada yang mutlak benar. Sipelebegu juga bisa benar tergantung dari mana melihatnya. Ajaran teologi liberal bahkan akhirnya sampai berani menggugat ketuhanan Yesus Kristus dan klaim-Nya yang bersifat mutlak. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa teologi liberal pada dasarnya merupakan aliran sesat atau bidat yang tidak berani memakai nama sendiri. Banyak bidat dalam kekristenan berani memakai nama sendiri seperti Saksi Yehova, Christian Science dsb, sedangkan teologi liberal tidak berani memakai nama sendiri melainkan secara perlahan menyebarkan ketidakpercayaan bagai kanker yang merusak jiwa jemaat.[10]

·         Munculnya para pemimpin gereja yang tidak lagi memenuhi syarat yang ditetapkan dalam Kitab Perjanjian Baru.[11] Sebagian dari para pemimpin rohani yang sedikit banyak sudah terpengaruh teologi liberal tidak mempunyai integritas yang diperlukan untuk pendewasaan  iman orang Kristen Batak sehingga tidak dapat lagi diharapkan melanjutkan proses pendewasaan itu sampai tuntas. Bukti nyata dari hal ini terlihat jelas dalam “perseteruan para pendeta HKBP” tahun 1992-1998. Firman Tuhan mengatakan hamba Tuhan tidak boleh bertengkar (2Tim 2:24). Nyatanya para pendeta tidak hanya bertengkar melainkan bermusuhan, sampai-sampai 12 orang warga jemaat terbunuh, dan keonaran terjadi dimana-mana selama 6 tahun. Tidak dapat disalahkan kalau ada orang menilai keadaan ini sebagai kembalinya sifat orang Batak sipelebegu yang sering bermusuhan dan saling membunuh. Firman Tuhan berkata “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."” (2Ptr 2:22 TB)

 

Dalam keadaan rohani seperti itu orang Kristen Batak yang belum dewasa iman ini berada ditengah situasi kemasyarakatan yang ingin kembali melestarikan budaya agama suku agar menarik turis domestik dan turis mancanegara berkunjung ke Tapanuli demi peningkatan perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu saja merupakan tantangan yang terlalu besar bagi orang percaya yang belum diperlengkapi oleh para pemimpinnya. Mereka belum terlatih untuk membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Jangankan mereka, para pemimpinnya pun tidak, sebagaimana ditunjukkan di atas. Tidak mungkin mengetahui apa yang menyukakan Tuhan kalau tidak mau menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Firman Tuhan berkata:
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm 12:1-2 TB)

 

Semua faktor internal dan eksternal tersebut diatas dan ditambah lagi dengan berbagai faktor lainnya yang tidak disebutkan satu persatu membuat pembaharuan adat Batak tidak terus berlanjut, bahkan mengalami kemunduran.

Masalah yang paling kontroversial adalah adat Batak yang berkaitan dengan pernikahan dan pemakaman orang yang meninggal, karena kedua hal ini secara berulang-ulang dialami keluarga, termasuk keluarga kita. Dalam menghadapi kontroversi ini timbul pertanyaan seperti:

1)      Apakah adat Batak dalam hal perkawinan dan pemakaman, yang dibangun oleh leluhur orang Batak yang tadinya tertutup, terbelakang, bersifat saling bermusuhan,  dan belum mengenal Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dapat terus dilaksanakan oleh orang Kristen Batak yang sungguh-sungguh rindu menyukakan Tuhan?

2)      Kalau adat Batak tidak sepenuhnya sepadan dengan iman Kristen, lalu bagaimana menentukan bagian mana dari adat itu yang harus ditinggalkan, diubah, atau diganti?

Gereja dalam arti persekutuan orang Kristen Batak secara keseluruhan (bukan satu denominasi saja) seharusnya mampu menuntaskan jawaban atas pertanyaan itu. Roh Kudus akan memberikan pencerahan yang tidak bertentangan kepada semua orang percaya yang sungguh-sungguh rindu menyukakan Tuhan. Kalau ada pencerahan yang bertentangan, mereka bisa bersama-sama retret, berdoa dan berpuasa sampai mendapat petunjuk yang tidak bertentangan. Mereka seharusnya sehati sepikir dalam Tuhan dengan dipimpin oleh Roh Kudus.[12]  Sayangnya, hal itu tidak terjadi dan dampaknya adalah orang Kristen Batak  pribadi lepas pribadi atau kelompok demi kelompok mencoba mencari jawaban masing-masing dan bersikap sesuai pemahamannya sendiri.

Kelompok pentakosta/karismatik umumnya menganggap adat Batak itu telah dimasuki roh jahat (okultisme) dan perlu ditinggalkan. Penolakan yang keras terhadap adat Batak bahkan sempat ditunjukkan dengan acara pembakaran ulos yang dianggap diberhalakan adat Batak.[13]

Kelompok arus utama (bukan pentakosta/karismatik) yang mencakup sebagian besar orang Kristen Batak mempunyai berbagai sikap berbeda terhadap adat Batak mulai dari yang cenderung sinkretis, akomodatif, atau tidak kompromi sama sekali.[14]

Sangat ironis bahwa setelah Injil Kristus masuk ke Tanah Batak lebih dari 150 tahun, orang Kristen Batak sama-sama setuju bahwa adat Batak tidak sepadan dengan Injil Kristus, namun tidak sepakat tentang bagaimana membuatnya sepadan dengan Injil itu. Keadaan inilah juga yang dihadapi oleh keluarga besar kita sehingga terlihat tidak sehati melakukan acara adat Batak, khususnya dalam acara pemakaman ayah Ompung yang meninggal tahun 1983 pada umur 82 tahun, dan Ibu Ompung yang meninggal akhir tahun 2010 pada umur 107 tahun.

4.      Pengalaman nyata Ompung


1). Peristiwa pada saat ayah Ompung meninggal tahun 1983.


Ayah Ompung adalah angkatan pertama orang Kristen yang menjadi pemimpin Jemaat setempat di Samosir. Ayah Ompung sangat setia beribadah. Tiap malam dia memimpin keluarga membaca Alkitab dan berdoa. Imannya teguh dan Tuhan memberikan kuasa kepadanya untuk melawan praktek sipelebegu yang merupakan budaya orang Batak saat itu.  Di awal masa pelayanannya, gereja yang pada mulanya dipimpin para misionaris masih memegang teguh sikap yang menolak praktek adat Batak termasuk tidak boleh "margondang". Namun pada bagian akhir masa pelayanannya, pandangan gereja mulai bergeser sebagaimana dijelaskan di atas.

Pada masa akhir hidupnya, Ompung yang saat itu bertugas di Aceh diberitahukan bahwa ayah Ompung sakit dan mengalami gangguan dari kuasa-kuasa dunia orang mati. Ompung datang mendampingi ayah Ompung yang terbaring lemah di tempat tidurnya, berdoa bersamanya dan dalam nama Yesus Kristus mengusir segala roh jahat yang mengganggunya pada waktu tidur. Ompung berjaga di kamar tidurnya, dan kuasa Tuhan menghalau semua gangguan. Sebelum kami tiba, telah lebih dahulu datang dari Jakarta, kakak Ompung dengan membawa video-camera dan merekam percakapannya dengan ayah Ompung dimana ia bertanya: “Molo monding Bapa, baenon do gondang?” (Kalau Bapa meninggal apakah pakai gondang?). Ayah Ompung menjawab: “i do” (ya). Saya yang tahu ayah Ompung tidak setuju gondang, mengusulkan agar kami tanya bersama-sama dengan disaksikan orang-orang yang hadir. Saya bertanya: “Apakah benar Bapa minta margondang kalau nanti meninggal?”. Dengan tegas dan jelas ayah Ompung yang terbaring ditempat tidurnya berkata: “Tidak, aku tidak bilang begitu”. Mendengar itu kakak Ompung menjadi gusar karena ada bukti rekamannya sebelumnya. Dia tetap merencanakan gondang, sedangkan Ompung tidak setuju karena itu tidak sesuai dengan ajaran dan hidup ayah Ompung.

Pada waktu ayah Ompung meninggal, sebagian besar dari anak-anaknya tetap teguh tidak mau margondang, tetapi kakak Ompung yang punya bukti video itu berkeras harus margondang. Para tua-tua kampung berkumpul dan kakak perempuan Ompung menjelaskan kepada mereka bahwa buktinya ayah Ompung anti-gondang adalah tanda pukulan ayah Ompung dikakinya karena ia dulu waktu remaja pergi ke pesta gondang. Para tua-tua mendukung, tidak perlu pakai gondang Batak untuk pemakaman ayah Ompung.

Sementara itu kakak laki-laki Ompung ternyata sudah menyewa gondang dan memaksakan margondang. Pendeta datang dengan keputusan boleh margondang asal memenuhi syarat yakni tidak boleh berbicara kepada roh, tidak boleh kesurupan, tidak boleh mabuk, dst. dst. Ompung dan saudara-saudara lainnya tidak mau bertengkar dan mulailah margondang di malam hari. Ompung hanya berdoa, puasa dan berjaga sesuai perintah Tuhan, dengan tetap duduk di luar rumah ayah Ompung di tepi Danau Toba.

Setelah membacakan keputusannya, pendeta  pulang ke rumahnya, tidur. Iblis yang juga tahu peraturan gereja itu tidak tidur. Pada tengah malam mulailah muncul tanda-tanda kesurupan dari orang yang sedang manortor (menari). Setelah menyaksikan apa yang terjadi, saya berdiri dan mengusir roh jahat dari rumah itu. Roh jahat itu lari, tetapi pargondangnya yang mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ikut lari juga malam hari itu  (meskipun yang diusir hanya Iblis). Acara dilanjutkan dengan nyanyian-nyanyian rohani sampai pagi. 

Tentang peristiwa itu, Oma menceritakan:

“Malam itu kami, para menantu dan anak-anak memenuhi kamar tidur depan yang berukuran sedang, tidak terlampau kecil tapi juga tidak terlalu luas. Ada empat tempat tidur menyesaki kamar tersebut, dan semua penuh. Namun seperti bisa dibayangkan, namanya tidur susah. Bunyi gondang cukup kuat terdengar, iramanya datar dan sama terus: tuk-kel-tuk, tuk-kel-tuk. Sekitar tengah malam kami terbangun mendengar suara orang serak-serak basah berbicara seperti orang mabuk di pengeras suara. Apa yang dikatakan tidak dapat ditangkap, hanya terdengar aneh. Beruntung anak-anak tidak ikut terbangun. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara memerintah iblis keluar dalam Nama Yesus. Tegang. Hening seketika. Kemudian, lewat pengeras suara kami dengar lagu rohani mulai dinyanyikan. Kami ikut lega, bernyanyi walau dalam hati.”

Pagi harinya, disepakati mencari musik gereja ke Pematang Siantar tetapi harus minta ijin lebih dulu ke pihak Tulang yang masih hidup waktu itu. Kami memerlukan speed boat dan yang ada di dekat rumah hanya speedboat milik kakak Ompung yang pro-gondang itu. Lalu saya minta kepadanya untuk kami pakai cari musik gerejawi, tetapi dia menolak dan menjawab: “Mintalah kepada Tuhan kalian”. Sekitar lima menit setelah dia berkata begitu, kami melihat satu speedboat datang menyisir pantai dan berhenti di dekat rumah. Ternyata speedboat itu dipakai Manajer Personalia yang memang datang dari Aceh khusus untuk menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya ayah Ompung. Pertolongan Tuhan tiba pada waktu yang tepat.

Kami meminta persetujuan pihak Tulang yang dengan sangat bijaksana berkata: “Beha ma na denggan di roha ni hamu angka bere i” (Bagaimana saja yang kalian anggap baik). Kami akhirnya mendapat pemusik gereja. Ayah Ompung dimakamkan dengan musik gereja dan lagu-lagu rohani Kristen tanpa gondang. Memang ada kepahitan pada kakak Ompung karena keinginannya margondang tidak jadi, namun Tuhan menyelesaikan pada waktu-Nya. Tahun 2011 dia sakit dan kami melayani dia di rumah sakit. Dia mau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Semoga hubungan pribadinya dengan Tuhan tetap mantap dan mengerti apa yang dikatakannya sendiri tentang kami saudara- saudaranya kepada orang-orang pada tahun 1983: “Ai HKBP do halak on alai na langsung-langsung tu Tuhan i”. (Mereka ini memang HKBP tetapi hubungannya langsung ke Tuhan). Hubungan pribadi dengan Tuhan yang hidup itulah yang diperlukan semua orang Kristen terutama orang Kristen Batak untuk dapat mengerti kehendak Tuhan dalam hal adat Batak.

2). Peristiwa pada saat ibu Ompung meninggal tahun 2010.


Sekitar dua bulan sebelum ibu Ompung meninggal, Ompung dan Oma mendampinginya selama dua minggu. Berdoa, baca Alkitab, bernyanyi tiap pagi dan malam. Dia dirawat oleh dua orang perawat. Pendampingan rohani oleh beberapa rohaniawan yang tinggal di sana. Salah satu yang kami doakan adalah agar Tuhan berkenan menyatakan diri kepada ibu Ompung sehingga meneguhkan iman keturunannya bahwa Tuhan yang menjemputnya. Kerinduan ini bertolak dari kenyataan bahwa pada masa “kemakmurannya” dia lebih akomodatif terhadap hal-hal yang ditawarkan dunia yakni keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Hal itu membuat kami kuatir. Namun Tuhan tetap setia, dan berkenan menjawab doa. Pada malam pertama Rabu 22 September 2010 sekitar jam 22.00, setelah selesai ibadah malam, salah seorang dari perawatnya dengan tergesa-gesa keluar dari kamar dan berseru kepada kami: “Ompung melihat malaikat Tuhan datang menyuruh berdoa dan berkhotbah”. Kami bersama rohaniawan masuk kembali ke kamar ibu Ompung dan berdoa menyerahkan ibu Ompung kepada Tuhan. Firman disampaikan, dan seorang dari perawat ternyata mempunyai beban hidup yang berat/gelap dan bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Pengalaman ini bagi kami merupakan jawaban doa. Ibu Ompung dalam keadaan rohaninya diakhir hidupnya tidak akan malu menyambut kedatangan Tuhan Yesus.

Pada suatu hari dalam minggu itu, pihak Tulang datang dan menyampaikan keputusan mereka akan memberikan ulos saput kalau ibu Ompung meninggal meskipun kami anak-anaknya tidak setuju, atau tidak hadir. Ompung memohon agar pemberian ulos dilakukan bukan kepada orang mati tetapi kepada yang hidup, karena sesuai kesepakatan keluarga, gondang juga tidak akan ada, hanya musik gerejawi saja. Namun pihak Tulang tetap berkeras dengan mengatakan akan membawa gondang sendiri, memberi ulos saput meskipun kami tidak bersedia menghadirinya. Berbeda dari pihak Tulang yang masih hidup pada waktu ayah Ompung meninggal 27 tahun sebelumnya, ternyata keturunannya lebih mementingkan keinginan mereka dan tidak mempertimbangkan sama-sekali keberatan hati nurani sebagian besar keluarga kita yang tidak setuju dengan keputusan mereka.

Pada saat kematian ibu Ompung (H0) perundingan dengan pihak Tulang terus diusahakan, namun tidak menghasilkan kesepakatan. Berdasarkan kenyataan itu, dalam pertemuan keluarga pada H0 disepakati bahwa anggota keluarga yang setuju adat dapat menghadiri acara adat di pagi hari pemakaman, sedangkan yang tidak setuju akan datang untuk pemakaman gerejawi di sore hari. Dan itulah yang terjadi pada hari pemakaman (H2). Dua orang saudara laki-laki Ompung hadir dalam acara adat, sedangkan kami empat orang lainnya datang bersama pendeta untuk acara pemakaman secara gerejawi saja. Seorang lagi, yakni kakak laki-laki Ompung yang dulu mencoba bawa gondang untuk pemakaman ayah Ompung 27 tahun sebelumnya, tidak bisa datang karena sakit.

Demikianlah pelaksanaan pemakaman ayah dan ibu Ompung dilakukan tanpa pertengkaran atau perkelahian, melainkan sepakat untuk tidak melukai hati nurani masing-masing. Namun demikian adalah kenyataan juga bahwa dalam keadaan tidak sepakat itu, iblis mempunyai peluang untuk bermain. Melalui hal-hal kecil yang sesungguhnya sepele. Karena jembatan komunikasi terganggu hampir terputus oleh ketidaksepakatan yang prinsip tersebut, masalah-masalah teknis menyebabkan ganjalan terutama dalam kerangka keluarga yang begitu besar dari segi jumlah. Perasaan tidak enak hanya tertahankan oleh karena diserahkan kembali kepada Tuhan. Memang hanya karena Tuhan dan di dalam Tuhan saja kedamaian bisa dipertahankan. Perbedaan sikap terhadap adat diantara saudara karena keberatan hati nurani adalah hal biasa dan tidak perlu ada kepahitan karena sikap itu diambil dengan keyakinan untuk menyukakan Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk saling menerima sebagai pengikut Kristus, karena Tuhan saja nanti yang akan menghakimi tiap orang.

Perbedaan sikap terhadap acara adat dalam keluarga merupakan bagian dari perbedaan yang ada dalam orang Kristen Batak sebagai anggota tubuh Kristus sebagaimana disebutkan sebelumnya. Perbedaan ini akan tetap ada sampai semua orang bertumbuh dalam kehidupan rohaninya menuju keserupaan dengan gambar Kristus dan sepakat untuk bersama-sama menemukan kehendak Tuhan untuk dilaksanakan bersama. Dalam hal belum ada kesepakatan seperti itu kita sendiri harus menggumuli hal-hal yang kita yakini menyukakan Tuhan dan melakukannya untuk keluarga kita sendiri dan sekaligus dapat menjadi salah satu acuan bagi keluarga lain yang mungkin menghadapi pergumulan yang serupa. Ompung ingin dapat berkata seperti Yosua pada akhir hidupnya: “aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YHWH!" (Yos 24:15b).

B.     SELEKSI PRAKTEK ADAT BATAK


Tujuan kita bukanlah mencari-cari pembenaran agar praktek-praktek adat Batak terus dilestarikan atau ditinggalkan, melainkan memohon petunjuk Tuhan melalui firman-Nya (Alkitab) dan pencerahan oleh Roh Kudus,  agar sebagai orang Kristen Batak  kita hidup menyukakan Tuhan dan dengan demikian kita bahagia, diberkati dan menjadi berkat bagi suku bangsa lain. Berdasarkan petunjuk dan pencerahan itu kita harus bersedia meninggalkan sebahagian dari praktek adat itu, dan membaharui yang lainnya. Masalahnya adalah bagaimana memilah adat yang harus ditinggalkan, adat yang perlu dibaharui dan bagaimana menolong orang Kristen Batak yang belum dewasa rohaninya untuk sampai ke tingkat kedewasaan iman yang memampukannya menerima perubahan itu.

Untuk itu kita perlu menyelidiki apa yang Alkitab katakan dengan jelas (kalau ada) tentang setiap praktek adat Batak (Mzm.119:105, 130 TB). Kalau ada firman Tuhan yang tegas dan jelas/spesifik tentang satu praktek adat Batak tertentu, maka pastilah semua kita yang mengasihi Tuhan akan senang melakukannya.[15] Contoh yang jelas dalam hal ini misalnya tradisi menyajikan makanan untuk roh nenek moyang jelas-jelas dilarang dalam Alkitab, dan sudah lama ditinggalkan oleh orang Kristen Batak pada umumnya. Tidak ada perbedaan dalam hal yang jelas seperti itu.

Namun karena tidak semua praktek adat Batak disebutkan dalam Alkitab, maka kita perlu menyelidiki prinsip alkitabiah mengenai praktek adat itu dan dari prinsip itu kita akan tahu apa yang menyukakan Tuhan. Beberapa prinsip berikut akan dapat menolong kita untuk menentukan sikap yang menyukakan Tuhan dalam melakukan atau tidak melakukan praktek adat Batak dan berbagai tradisi orang Batak:

 

1)      Prinsip mengutamakan Allah (Mat 6:33). Tuhan senang kalau kita lebih dulu menemukan kehendak-Nya dalam segala masalah yang kita hadapi. Keputusan kita untuk melakukan atau tidak melakukan praktek adat Batak, haruslah berdasarkan keyakinan yang kokoh bahwa sikap itu sesuai dengan kehendak Allah bukan karena kita khawatir akan keperluan hidup kita atau khawatir akan perlakuan orang lain terhadap kita. Pertimbangan utama kita bukanlah "bagaimana nanti kata orang", atau "dari mana uang untuk melakukan adat itu" melainkan "apakah Tuhan senang kalau praktek adat itu dilakukan".

2)      Prinsip kasih (Mat 22:37-39). Tuhan senang kalau kita mengasihi-Nya secara penuh bukan setengah-setengah, dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Sikap kita terhadap praktek adat Batak  haruslah dengan jelas menunjukkan kasih itu. Kita melakukan atau meninggalkan adat itu karena kita sepenuh hati mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Kasih itu tidak selalu berarti harus bersama-sama atau berkumpul-kumpul melakukan adat Batak. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong,  tidak melakukan yang tidak sopan,[16] tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran,  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

3)      Prinsip misi orang percaya (Mat 28:18-20; 25:40; 5:13,16). Tuhan senang kalau kita memberitakan Injil melalui perkataan dan perbuatan kita. Keterlibatan kita dalam praktek adat Batak haruslah dengan maksud untuk memenangkan orang Batak dan orang bukan Batak bagi Kristus (1Kor 9:19-22). Praktek adat Batak haruslah merupakan suatu kesaksian yang menjadi berkat bagi lingkungan dimana kita berada sehingga mereka mendengar Injil Kristus dan mengalami kasih itu secara nyata.

4)      Prinsip kekudusan (1Ptr 1:15-16). Tuhan senang kalau kita hidup kudus, karena Tuhan kita kudus. Sikap kita haruslah menjamin bahwa kita tetap kudus, tidak tercemar oleh noda-noda agama suku Batak.

5)      Prinsip pertumbuhan rohani (2Ptr 3:18). Tuhan senang kalau kita bertumbuh dalam iman. Sikap kita terhadap praktek adat Batak hendaklah mendorong pertumbuhan rohani kita dan orang Kristen lainnya, bukan sebaliknya membuat kita tetap saja tidak dewasa secara rohani, tidak maju-maju atau malah menjadi mundur. Adat Batak dengan dalih apa pun tidak boleh menghambat atau mengurangi kerajinan dan kesetiaan kita melakukan kegiatan doa, baca Alkitab, persekutuan, pelayanan dan kesaksian.

6)      Prinsip kemanfaatan (1Kor 6:12). Tuhan senang kalau kita melakukan hal yang berguna dari sudut pandang sorga. Kita merdeka melakukan berbagai praktek adat Batak tetapi tidak semuanya itu berguna bila dipandang dari sorga. Kita harus pilih yang berguna saja.

7)      Prinsip tidak membuat orang yang lemah tersandung (1Kor 8:1-13). Tuhan senang kalau kita memperhatikan kepentingan saudara kita yang lemah. Kita yang "kuat" mungkin mampu mengikuti praktek adat Batak tanpa tercemar, tetapi saudara-saudara kita yang lemah akan dapat tersandung karena hati nuraninya terluka atau ia meniru kita dan hatinya tercemar. Dalam hal seperti itu, kita turut bertanggungjawab.

8)      Prinsip kemuliaan Allah (1Kor 10:31). Tuhan senang kalau setiap hal yang kita lakukan adalah untuk  memuliakan-Nya. Semua praktek adat Batak yang kita laksanakan haruslah untuk kemuliaan Allah bukan untuk kemuliaan kita, keluarga kita, marga kita atau suku kita.

9)      Prinsip keteladanan Tuhan Yesus (1Ptr 2:21). Apa yang akan Tuhan Yesus lakukan seandainya Dia berada pada posisi kita, itulah yang kita lakukan, dengan segala konsekuensinya.

 

Apabila prinsip-prinsip tersebut di atas kita gunakan untuk menyeleksi berbagai praktek adat Batak yang sering dilakukan sekarang ini, maka hasil seleksi akan menunjukkan bahwa  semua praktek adat Batak yang berhubungan dengan kematian dan orang mati harus kita tinggalkan, sedangkan praktek adat Batak yang berhubungan dengan orang hidup harus dibaharui, sebagaimana diuraikan dibawah ini.

 

1.      Praktek adat Batak untuk orang mati harus ditinggalkan.


Peristiwa kematian dan dunia roh merupakan misteri yang tidak dapat dimengerti manusia yang diluar Tuhan. Mereka tidak tahu kemanakah roh manusia pergi setelah meninggal. Iblis pendusta itu menipu dengan menyamar sebagai nenek moyang yang meninggal, melalui kesurupan, mimpi, hantu dan lain sebagainya. Itulah yang dipercayai oleh agama suku Batak sipelebegu. Mereka memuja roh leluhurnya agar mereka diberkati dan tidak dimurkai. Adat Batak berakar pada pandangan yang salah ini. Kesalahan ini bersifat demonik yaitu bersumber langsung dari Iblis, bukan hanya dari filsafat atau pemikiran manusia saja. Semua budaya manusia sudah rusak, tidak sesuai dengan standar Allah karena manusia sudah berdosa. Akan tetapi tingkat kerusakannya menjauhi standar Allah berbeda-beda. Seperti semua mayat mati tetapi tingkat kebusukan semua mayat tidak sama. Agama suku Batak seperti banyak kepercayaan lainnya, termasuk paling rusak karena bersifat demonik, sumber informasinya langsung dari roh-roh jahat yang menyamar. Iblis bisa menyamar seperti malaikat terang, apalagi menyamar seperti orang yang sudah meninggal. Manusia mempercayainya, itulah masa kebodohan/kegelapan.

Informasi Injil tentang kematian.

Injil kabar baik menyampaikan kepada kita kebenaran tentang kematian dan orang mati. Yesus Kristus sudah mati dua ribu tahun yang lalu, turun ke dalam kerajaan maut dan bangkit dari kematian pada hari yang ketiga. Dia adalah Tuhan kita yang memegang kunci kerajaan maut, dan Dia tetap hidup dan berkuasa sekarang ini. Berdasarkan firman-Nya kita orang Kristen Batak sekarang mengerti bahwa orang yang mati dalam Tuhan tetap hidup meskipun sudah meninggal (Yoh 5:24; 11:25-26). Ternyata kematian hanya merupakan peralihan dari tubuh jasmani untuk menetap pada Tuhan (2Kor 5:8). Tubuh orang yang meninggal digambarkan hanya sebagai "kemah tempat kediaman yang dibongkar" (2Kor 5:1). Tubuh itu nantinya akan dibangkitkan menjadi tubuh baru pada waktu Tuhan datang kembali (1Tes 4:16; 1Kor 15:35-58).

Berdasarkan kebenaran ini, tidak layak bagi kita orang yang mengasihi Tuhan untuk berusaha "mati-matian" mengurus mayat orang mati yang notabene adalah "kemah yang roboh" itu dan mengabaikan kebenaran bahwa rohnya tetap hidup menetap dengan Tuhan dan Tuhan itu adalah Kepala Gereja dan kita adalah anggotanya. Begitu banyak waktu, tenaga dan dana kita habiskan demi mengikuti tradisi yang kita warisi dari leluhur kita. Kita menghargai warisan itu namun dengan kesadaran bahwa mereka melakukan praktek adat Batak itu sesuai pemahamannya, yakni mereka belum tahu kebenaran tentang kematian seperti yang kita mengerti sekarang.  Kita seharusnya berusaha "mati-matian" melakukan perintah-perintah Kristus yang sudah jelas, sebagai bukti nyata kasih kita kepada-Nya dan juga kepada kekasih kita yang meninggal itu, karena ia sudah menetap pada Tuhan, dan tidak lagi dalam 'kemahnya yang roboh' alias mayatnya. Fokus kita seharusnya pada Tuhan yang pada-Nya kekasih kita yang meninggal itu hidup/ menetap, dan yang realitas keberadaan-Nya kita alami dalam tubuh-Nya yakni Gereja, persekutuan orang percaya. Dalam TuhanYesus, kita akan tetap dekat dengan semua kekasih kita yang meninggal dalam Tuhan, sebab kita dan mereka ada dalam Tuhan. Karena itu, proses pemakaman jenazah orang yang meninggal dalam Tuhan, seharusnya dilakukan hanya dalam dan bersama dengan tubuh Kristus (gereja/ jemaat/ persekutuan) saja sedangkan partisipasi semua pihak lainnya bisa diatur bersama tubuh Kristus itu. Ada lembaga gereja yang memberikan pelayanan mengurus kematian secara penuh, bahkan termasuk membayar biayanya sesuai standar gereja. Keluarga yang berduka hanya perlu memberitahukan kepada unit pelayanan itu, dan semua urusan akan ditangani termasuk hal teknis, acara penghiburan, pemakaman dan pengucapan syukur setelah pemakaman. Dengan pemakaman secara gerejawi saja, kita dengan sadar tidak memberi kesempatan kepada Iblis mengambil keuntungan dalam acara pemakaman dan hal itu menyenangkan Tuhan karena sesuai kehendak-Nya (bnd Ef 4:27).

Mengacu kepada kebenaran yang disebut diatas, kita dapat menyoroti berbagai praktek adat Batak yang berkaitan dengan kematian yakni:

1) Menari mengelilingi mayat, gondang saurmatua atau sarimatua.[17]


Tradisi ini membeda-bedakan orang mati berdasarkan umur dan status anak-cucu, dimaksudkan sebagai ungkapan sukacita dan syukur. Dengan tradisi ini tersirat bahwa sukacita dan syukur yang sama tidak boleh untuk kasus mati muda.

Iman kita menolak pembedaan seperti itu.  Semua orang percaya yang meninggal adalah sama, yakni ybs menetap pada Tuhan. Tidak ada perbedaan apakah sarimatua, saurmatua, mati muda dsb.  Kita bersukacita dan bersyukur karena nama kita terdaftar di sorga (bnd.Luk 10:20) sehingga pada waktu kita meninggal, kita menetap pada Tuhan, dan ada janji pemeliharaan Tuhan untuk keluarga yang kita tinggalkan. Tuhan menghendaki kita mengucap syukur dalam segala hal (1Tes 5:18), bukan dalam hal tertentu saja.

 
Meninggal pada usia muda tidak boleh dinilai seperti kurang "berhasil" dari pada meninggal di usia lanjut. Yohanes Pembaptis yang terbesar dari manusia yang dilahirkan perempuan (Mat 11:11) juga mati muda dan tidak disebut mempunyai keturunan. Kepalanya bahkan dipenggal Herodes dan ditaruh diatas talam. Cerita penguburannya pun tidak mencatat apakah dengan kepalanya yang dipenggal oleh Herodes itu (Mat 14:6-12).
Tuhan kita Yesus juga mati pada usia muda dan tidak mempunyai keturunan.
Penguburan Tuhan Yesus dicatat dalam keempat kitab Injil (Mat 27:57-61; Mrk 15:42-47; Luk 23:50-56; Yoh 19:38-42) dengan kesan yang sama yakni dilakukan tergesa-gesa karena waktu, dikuburkan di tempat pekuburan yang dekat dan  hanya disaksikan oleh sedikit orang saja.
Ternyata Yohanes Pembaptis yang terbesar itu dan Yesus Kristus Juruselamat dunia itu, mati muda dan tidak mempunyai keturunan. Karena itu tidak patut bagi orang Kristen Batak memberikan nilai kurang pada orang yang mati muda, dan nilai lebih pada orang mati yang "mamora, gabe dan sangap" (kaya, banyak anak dan terhormat). Itu termasuk "memandang muka", tidak boleh dilakukan orang yang beriman kepada Yesus Kristus (Yak 2:1-13) karena hal itu tidak menyukakan Tuhan.

Bagi Tuhan tidak menjadi persoalan mati muda, sarimatua, dsb. Karena kita adalah anak-anak Tuhan, pandangan kita pun harusnya sama seperti itu. Kita tidak memandang "hamoraon, hagabeon, hasangapon"(kekayaan, banyak anak, kehormatan) sebagai hal yang terpenting karena kita adalah warga kerajaan Allah yang mementingkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Rm 14:17).  Wujud nyata dari sukacita dan syukur yang menyukakan Tuhan adalah mempersembahkan hidup kita secara total untuk dipakai oleh Tuhan (Rm 12:1), bukan dengan margondang/ menari mengelilingi mayat yang notabene adalah "kemah roboh" dari orang yang kita kasihi itu. Waktu, tenaga dan dana yang sangat besar untuk melakukan tradisi ini paling tepat disalurkan untuk mendukung pekerjaan Tuhan, sebagai tanda bahwa kita percaya kekasih kita yang telah meninggal itu tetap hidup dan menetap dengan Tuhan. Kemuliaan atau kehormatan tidak perlu lagi dicari/diusahakan untuk orang yang mati atau keluarganya, melainkan kemuliaan Tuhan saja yang perlu nampak secara nyata dalam acara pemakaman. Kerinduan dari orang yang mengasihi Tuhan adalah: "Kristus secara nyata dimuliakan baik oleh hidupku maupun oleh matiku" (bnd Flp 1:20). Salah satu bentuk yang dapat dicontoh dalam hal ini adalah mempersembahkan sebagian harta yang ditinggalkan untuk dipakai mendukung pekabaran Injil dan berbagai pekerjaan baik lainnya sesuai kesehatian para ahli waris, atau sesuai wasiat orang yang meninggal itu bila ada.

2) Membawa mayat untuk dikuburkan di Bonapasogit[18].


Ada sebagian orang Batak yang menganggap perlu dan ingin dimakamkan di kampungnya kalau ia meninggal, meskipun hampir seumur hidupnya ia diperantauan. Karena keinginannya itu dipesankan kepada keturunannya, maka mau tak mau keturunannya harus melaksanakannya meskipun dengan mengorbankan banyak waktu, tenaga dan dana. Hal ini terjadi karena belum mengerti kebenaran tentang kematian dan tentang orang mati sebagaimana disebutkan di atas. Tubuh orang yang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan pada waktu Tuhan datang kembali, dimana pun tubuh itu dikuburkan. Karena itu sesungguhnya tidak jadi soal tempat penguburannya.

Kasus Yakub dalam Kej 49:29-50:14 tidak dapat dipakai untuk membenarkan tradisi ini, karena kasus Yakub berkaitan dengan perjanjian Allah kepada Abraham. Salah satu unsur dari perjanjian itu adalah Tuhan akan memberikan Tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian untuk Abraham dan keturunannya (Kej 12:7). Iman kepada Tuhan dan janji-Nya itulah yang mengendalikan seluruh sikap leluhur Israel. Justru karena iman itulah maka leluhur Israel pada waktu belum mempunyai tanah milik di Kanaan tidak kembali ke tempat asalnya (bonapasogitnya) di Mesopotamia meskipun kalau mau mereka mempunyai kesempatan untuk itu (Ibr 11:15). Dengan iman atas janji Tuhan itulah Abraham membeli tanah kuburan keluarganya di Hebron (Kej 23:1-20). Dengan iman yang sama Yakub menggali kuburannya di situ sebelum ia dan keluarganya mengungsi ke Mesir (Kej 50:5b) dan berpesan kepada Yusuf untuk menguburkannya di tempat itu (Kej 49:29-32) meskipun Tanah Kanaan belum menjadi miliknya dan semua keturunannya berada di Mesir. Jadi cerita tentang "Yakub minta dikuburkan di Kanaan" adalah cerita iman, yakni iman kepada Tuhan yang berjanji akan membawa Israel kembali ke Kanaan, bukan selamanya tinggal di Mesir. Hal itu adalah dalam rangka janji Tuhan kepada Abraham agar menjadi berkat bagi semua bangsa yang nyata melalui Yesus Kristus Juruselamat dunia.


Untuk kita ceritanya berbeda, karena janji Tuhan kepada kita orang Kristen, bukan lagi "tanah" tetapi sorga (Flp 3:20-21). Dari sorga lah kita menantikan Tuhan datang menjemput kita dan di sana lah Tuhan menyediakan tempat untuk semua orang percaya (Yoh 14:1-3). Kalau kita beriman kepada Tuhan dan janji-Nya sebagaimana Yakub beriman, maka kita tidak perlu lagi terikat tradisi  pemakaman di Bonapasogit. Keputusan kita berdasarkan iman untuk tidak membawa mayat ke Bonapasogit itu akan menjadi suatu kesaksian bagi orang lain bahwa kita percaya kepada Tuhan dan janji-Nya. Waktu, tenaga dan dana yang besar yang akan digunakan untuk pemakaman di Bonapasogit dapat digunakan untuk pekerjaan Tuhan termasuk menolong anggota keluarga yang memerlukan.

 3)  Menggali tulang belulang (mangongkal holi) dan membangun tugu.[19]


Tradisi ini ada karena belum memahami kebenaran tentang kematian dan tentang orang mati seperti disebutkan di atas. Tuhan Yesus tidak pernah memerintahkan kita melakukan itu. Kasus Yusuf yang sering dipakai untuk menenteramkan hati nurani orang percaya yang melakukan praktek adat ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan "mangongkal holi"-nya orang Batak. Mari kita teliti dengan cermat cerita "tulang-tulang Yusuf" dalam Kej 50:22-26.Yusuf adalah tokoh yang sangat terpandang di Mesir. Ia meninggal pada umur 110 tahun (Kej 50:22). Ia percaya kepada Tuhan dan janji-Nya sebagaimana nyata dari ucapannya sendiri:

“Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini."” (Kej 50:24-25 TB)

 

Iman ini dikonfirmasikan lagi dalam kitab Perjanjian Baru:

“Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.” (Ibr 11:22 TB)

 

Jadi, iman kepada Tuhan dan janji-Nya itulah yang mengendalikan sikap semua leluhur Israel termasuk Yusuf. Kalau hanya sekedar menguburkan tulangnya di Kanaan, tidak perlu bersusah-susah menunggu ratusan tahun disimpan di Mesir dan "merepotkan" keturunan memikulnya selama 40 tahun di gurun pasir. Yakub saja, ayah Yusuf bisa langsung dikuburkannya di Kanaan segera setelah meninggal, karena Yusuf orang berkuasa di Mesir. Tetapi yang penting adalah iman kepada Tuhan dan janji-Nya bahwa ratusan tahun kemudian setelah Yusuf meninggal, Israel pasti keluar dari Mesir dan memiliki Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan = Tanah Israel) dan pada waktu yang ditentukan Tuhan itu, anaknya Efraim dan Manasye yang lahir dari perempuan Mesir itu pasti turut menikmati janji itu. Alkitab mencatat bahwa Musa lah yang membawa tulang-tulang Yusuf itu (Kel 13:19). Musa itu marga Lewi karena ayahnya marga Lewi dan ibunya juga marga Lewi (Kel 2:1). Jadi bukan marga Yusuf yang membawa tulang-tulangnya, karena tindakan ini adalah tindakan iman kepada Tuhan dan janji-Nya kepada Israel sebagai satu bangsa, bukan kepada marga Yusuf saja.
Dalam konteks kita, sebagaimana disebutkan sebelumnya, janji Tuhan bukan lagi "tanah" tetapi sorga. Kalau kita sungguh percaya kepada Tuhan dan janji-Nya itu, kita tidak akan minta keturunan kita bersusah-susah menggali dan mengumpulkan tulang belulang kita dalam "tugu tengkorak" di Bonapasogit, karena pada waktu meninggal kita langsung menetap pada Tuhan, sedangkan tubuh kita akan dibangkitkan sebagai tubuh yang baru kelak pada waktu Tuhan datang dimana pun tubuh itu terkubur dan bagaimana pun keadaannya.  Iman kita itu seharusnya diwujudkan dengan melakukan segala perintah Kristus bukan melakukan yang tidak diperintahkan-Nya. Waktu, tenaga, dana yang besar itu kita gunakan untuk mendukung penginjilan agar makin banyak orang beralih menjadi warga sorga dan tidak lagi diperhamba tradisi apapun. Pertimbangan "demi persatuan" yang sering disebutkan menjadi salah satu alasan membuat "tugu tengkorak" belum terbukti benar, bahkan ada indikasi bahwa keluarga yang mempunyai tugu seperti itu lebih banyak percekcokannya dari pada keluarga lain.
Kita seharusnya menolong saudara-saudara kita di Bonapasogit sesuai kemampuan kita pada waktu kita hidup, bukan sebaliknya membebani mereka dengan menggunakan lahan yang mendukung hidup mereka untuk kuburan/ tugu-tugu pada waktu kita mati.

4) Berbagai tradisi lainnya yang berkaitan dengan kematian.


 Berbagai tradisi lainnya yang tidak selaras dengan kebenaran tentang kematian sebagaimana disebutkan di atas perlu ditinggalkan agar tidak mengaburkan kesaksian kita sebagai pengikut Kristus. Tradisi yang dimaksud termasuk:

*. Menikahkan anak dihadapan mayat orangtuanya. Ini tidak selaras dengan kepercayaan kita bahwa orang yang meninggal dalam Tuhan tidak berada lagi dalam atau sekitar mayatnya, dan ia tidak mati tetapi hidup menetap pada Tuhan. Pernikahan di gereja/persekutuan orang percaya adalah lebih tepat, karena Tuhan yang pada-Nya kita menetap sesudah meninggal, berjanji hadir ditengah-tengah umat-Nya yang berkumpul dalam nama-Nya.

*. Membiarkan mayat tergeletak cukup lama dan tidak dimasukkan ke dalam peti mati karena menunggu adat[20] sehingga terlihat seperti "terlantar". Tradisi ini perlu ditinggalkan. Kalau mayat sudah siap dan peti mati sudah tersedia, maka mayat dapat langsung dimasukkan kedalam peti itu tanpa menunggu, cukuplah dengan doa singkat atau acara rohani secara singkat dengan dihadiri keluarga inti[21]  dan siapa saja yang hadir saat itu.

*. Ulos saput yang diberikan untuk orang mati tidak perlu lagi. Pemberian ulos kepada orang mati tidak selaras dengan iman kita, karena orang yang meninggal dalam Tuhan tidak ada lagi di mayatnya itu. Ia tetap hidup dan menetap pada Tuhan. Semua perlakuan yang perlu untuk orang yang kita kasihi haruslah kita lakukan pada waktu dia hidup, bukan setelah mati. Kalau ada yang masih perlu dilakukan, haruslah ditujukan kepada atau melalui Tuhan dalam persekutuan dengan anggota-anggota tubuh-Nya (Gereja).

2. Praktek adat Batak untuk orang hidup perlu diuji.


Kita orang Kristen Batak telah Tuhan pilih dan diselamatkan supaya kita tidak hidup bagi diri kita/suku kita saja tetapi menjadi berkat bagi semua suku bangsa baik yang disekitar kita maupun di seluruh dunia. Ini adalah misi semua orang percaya sesuai firman Allah:
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” (1Ptr 2:9 TB)

 

Beberapa dari praktek adat Batak yang perlu ditinjau dalam hubungan ini adalah:

1) Keterikatan pada struktur dalihan na tolu (DNT).[22]


Dalam struktur DNT tidak ada peluang bagi suku bangsa lain berpartisipasi dalam praktek adat Batak tanpa "menjadi orang Batak" (diberi marga) karena konsep DNT membatasi hanya 3 pihak saja yang berperan penuh dalam adat yakni hula-hula, dongan sabutuha dan boru. Semua pihak yang tidak termasuk dalam kelompok yang tiga itu dipaksa atau terpaksa harus masuk kalau mau diakui. Seorang Batak yang beristerikan bukan Batak harus memberikan marga Batak untuk isterinya itu meskipun mereka sama-sama Kristen. Pada waktu acara pernikahan, bukan lagi ayah dan ibu kandung isterinya itu yang berperan, melainkan "orangtua angkatnya" yang Batak itu. 

Seharusnya tidak demikian. Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus  sudah mempunyai "marga Kristen" yang diperoleh melalui pengorbanan Tuhan Yesus yang mati untuk menebus kita. Dalam Kristus semua orang adalah sama, tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.

“dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (Kol 3:11 TB)

 

Masalah lainnya dengan konsep DNT adalah, anggota keluarga dekat menjadi "jauh" sedangkan keluarga "jauh" menjadi pengendali acara. Struktur keluarga dalam kekristenan berintikan suami, isteri dan anak-anak sebagai satu titik pusat dalam lingkaran keluarga besar. Lingkaran lapis pertama yang mengelilingi keluarga inti itu adalah ayah/ibu dari pihak suami, ayah/ibu dari pihak isteri, saudara kandung suami, saudara kandung isteri. Kenyataannya dalam praktek adat Batak, keluarga inti dan keluarga lingkar satu ini menjadi tidak berperan maksimal bahkan cenderung tersisihkan, karena keluarga "jauh" yakni dari  luar keluarga inti  yang mengendalikan acara hanya karena satu marga saja, padahal mereka umumnya tidak dikenal oleh keluarga inti. Belum lagi masalah biaya yang semuanya harus ditanggung keluarga inti demi memenuhi konsep DNT.  Hal ini tidak "adil". Keluarga inti, lapis satu atau paling tidak lapis dua itulah yang bertanggungjawab penuh untuk kehidupan mereka, bukan keturunan leluhur satu marga puluhan generasi sebelumnya. Kalau ada anggota keluarga yang "terkapar" atau memerlukan pertolongan, maka keluarga dekat itulah yang harus menolong dengan penuh komitmen. Hal ini merupakan kewajiban yang Tuhan tentukan (1Tim 5:8). Akan tetapi untuk acara adat Batak, justru keluarga "jauh" itu yang berperan.


Demikian juga masalahnya dengan kawan-kawan sepersekutuan, sesama anggota keluarga Tuhan yang tekun bersekutu dan melayani dengan keluarga inti. Mereka merasa menjadi "orang asing"dalam acara adat Batak yang eksklusif dengan konsep DNT nya. Padahal Tuhan  berkata:
“Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."” (Mat 12:50 TB).

Berdasarkan firman ini, seharusnya kawan-kawan satu persekutuan lah yang lebih dekat kepada kita dari pada kawan semarga keturunan leluhur puluhan generasi yang lalu yang tidak dekat lagi dengan kita, bahkan mungkin juga bukan anggota keluarga Tuhan.

 

Karena itu konsep DNT perlu disesuaikan agar mencerminkan orang Kristen Batak sebagai keluarga Tuhan. Itulah yang sepadan dengan Injil Yesus Kristus.

 

 

 

2) Keterikatan pada jenis makanan "tradisional".


Praktek adat Batak selalu melibatkan jenis makanan yang tidak bisa lepas dari babi dan darah. Masalahnya adalah lingkungan mayoritas di perantauan menganggap itu haram, sehingga dalam pesta adat,  makanan menjadi suatu tembok pemisah antara orang Kristen Batak dengan orang beragama lain. Hal ini sangat merugikan kesaksian kita sebagai pengikut Kristus, yakni kita sendiri yang membuat tembok pemisah itu. Kita tidak memberitakan kabar baik, Injil Kristus yang menjangkau orang tapi sebaliknya membuat mereka menjauh atau terpisah dari kita. Seharusnya kita bersedia berubah agar orang lain mendapat berkat keselamatan (bnd.1Kor 9:19-23). Makanan tradisional itu tidak masalah untuk acara "kalangan sendiri" yang tertutup atau terbatas seperti di rumah dsb, tetapi tidak bijaksana untuk melakukannya di tempat umum yang dihadiri orang beragama lain. Tradisi ini perlu diubah agar tidak menghalangi kesaksian kita di lingkungan mayoritas yang beragama lain.

3) Sifat diskriminatif praktek adat Batak.


Praktek adat Batak sangat diskriminatif terhadap golongan tertentu seperti orang yang tidak kawin, tidak punya anak,  tidak punya anak laki-laki, dsb. Orang Batak yang tidak kawin tidak dapat berperan dalam adat Batak. Jadi seandainya Yohanes Pembaptis yang oleh Tuhan disebut orang terbesar itu, atau Yesus Kristus Juruselamat dunia itu adalah orang Batak, mereka akan terkena diskriminasi juga karena tidak kawin. Praktek ini perlu diubah. Kalau Tuhan semesta alam saja tidak dapat diterima oleh adat mana pun, pastilah ada yang salah dalam konsep adat itu dan orang Kristen perlu melakukan perubahan.


Janda miskin yang tidak punya keturunan atau tidak punya anak laki-laki akan merasakan ketidakadilan pada saat suaminya meninggal, karena keluarga suaminya menuntut harta peninggalan suaminya. Tradisi ini bertentangan dengan perintah Tuhan dan perlu dihilangkan. Janda miskin bukan untuk "dijarah" dengan alasan adat, dia harus ditolong karena perintah Tuhan (Yak.1:27
).

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1Tim 5:8 TB)


Anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki akan merasakan ketidakadilan pada saat ayahnya meninggal, karena saudara ayahnya akan mempersoalkan tanah warisannya. Tradisi ini bertentangan dengan perintah Tuhan dan perlu dihilangkan. Alasan pembenaran yang sering disebut dengan menggunakan adat Israel seperti dalam Alkitab, sama sekali tidak relevan karena tanah Israel itu Tanah Perjanjian seperti diterangkan sebelumnya. Tanah Batak itu bukan "Tanah Perjanjian"  yang disebut dalam Alkitab. Kita umat Kristus tidak dijanjikan "tanah" lagi tetapi sorga. Anak perempuan yatim piatu yang tidak mempunyai saudara laki-laki itu perlu ditolong, bukan dijarah. Lagipula kalau dia menuntut haknya itu melalui pengadilan sekarang ini, dia akan dimenangkan (sudah ada preseden kasus seperti itu), tapi kita sesama orang percaya tidak boleh menyelesaikan perkara di luar persekutuan (1Kor.6:1-9), cukup dengan saling mengasihi saja seharusnya perubahan dapat dilakukan.

 

4) Umpasa, ulos dll.

Tidak ada perintah Tuhan yang spesifik dalam hal ini. Karena itu prinsip-prinsip yang disebutkan sebelumnya akan dapat menolong melakukan seleksi yang diperlukan untuk setiap kasus. Ulos misalnya adalah barang biasa seperti barang dagangan lainnya, bisa digunakan sebagai kado,  tapi kalau digunakan untuk ulos saput seperti dibahas di atas, maka urusannya sudah lain, karena hal itu berkaitan dengan kepercayaan yang salah tentang kematian/orang mati. Umpasa juga tidak lebih dari puisi biasa, tapi kalau isi pesannya bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah disebutkan sebelumnya maka urusannya menjadi lain. Lagi pula hendaklah dipertimbangkan kemanfaatannya dari sudut pandang sorgawi. Sebagai ganti umpasa, kita dapat sampaikan firman Tuhan saja, sehingga kita terhindar dari dosa karena lidah. Yang terutama dalam melakukan atau tidak melakukan tradisi ini adalah adanya sejahtera dalam hati yang diberikan oleh Roh Kudus (Kol 3:15) sebagai petunjuk persetujuan-Nya.

5) Tradisi pesta menjelang siang hari (nangkok mata ni ari) dan bertele-tele.
 Pesta kawin orang Batak sering terikat waktunya menjelang siang hari, dan umumnya hari Sabtu dan Minggu, sehingga sering menghalangi orang Kristen Batak hadir pada acara gereja/ persekutuan sebagaimana biasanya. Acara pesta juga bertele-tele menghabiskan waktu. Tuhan tidak senang dengan tradisi ini sesuai firman-Nya:

·         “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr 10:25 TB).
Kita harus mendahulukan persekutuan dari pada mengikuti acara adat.

·         “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;” (Kol 2:16 TB). “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:” (Kol 2:20 TB).  
Kita harus bebas menentukan hari dan jam acara, tidak harus siang hari.

·          “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Ef 5:16 TB)
Kita tidak boleh membuat acara yang bertele-tele, harus berusaha keras menghemat waktu.


 

C.     IMPLEMENTASI UNTUK KELUARGA


Tuhan sudah memilih kita bersama dengan semua orang percaya di dunia menjadi keluarga Tuhan. Ayah Ompung melayani Tuhan sampai akhir hidupnya, demikian juga ayah Oma. Ompung dan Oma dengan sadar menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada tahun 1960-an, dan melayani Tuhan sesuai pimpinan-Nya. Hidup pelayanan Ompung dan Oma itu juga tergambar dari bab-bab yang kami tulis bersama kawan-kawan dengan judul “Jemaat Misioner” yang diterbitkan Penerbit Bina Kasih, Desember 2011.[23] Sebagai pengikut Kristus kita harus meneladani-Nya. Hidup dan mati Yesus Kristus adalah menggenapi segala yang tertulis tentang Dia sebagai Kristus, Anak Allah yang hidup. Hidup dan mati kita pun haruslah menggenapi segala yang tertulis dalam Alkitab tentang kita sebagai pengikut Kristus yang tidak boleh serupa dengan dunia ini. Sebagai keluarga Tuhan, kita harus hidup sepadan dengan Injil Kristus dan menolak segala praktek hidup yang tidak sepadan dengan Injil Kristus itu. Itu lah yang menjadi dasar hidup Ompung/Oma dan dapat menjelaskan berbagai pertanyaan yang mungkin timbul tentang pola hidup yang Ompung/Oma tempuh yakni:

1.      Mengapakah Oma tidak diberikan marga Batak?


Menurut adat Batak seharusnya Oma diberikan marga supaya diterima dalam sistem adat Batak. Dengan sadar hal ini tidak dilakukan karena Ompung dan Oma sudah Tuhan ubahkan menjadi ciptaan baru dalam Kristus (2Kor 5:17), dan oleh Roh Kudus dimerdekakan dari segala perhambaan (termasuk perhambaan adat Batak) untuk melayani Tuhan dalam kemerdekaan Roh. Dengan sikap ini Ompung/Oma menunjukkan kepada orang Kristen umumnya dan bagi keturunan Ompung/Oma khususnya  bahwa Ompung/Oma mengasihi Tuhan Yesus lebih dari pada mengasihi adat Batak.

Tidak ada lagi diskriminasi berdasarkan suku bagi semua orang percaya, tidak ada lagi orang Batak atau orang Manado, semua sudah menjadi orang Kristen. Pembedaan berdasarkan bangsa dan budaya yang lama tidak boleh ada lagi dalam keluarga Tuhan. Orang Kristen yang sungguh mengasihi Tuhan seharusnya menolak tradisi pemberian marga ini, karena tradisi pemberian marga tidak sepadan dengan Injil Kristus.
 ” dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (Kol 3:11 TB)

Keputusan Ompung/Oma ini menyebabkan acara pemberkatan pernikahan Ompung/Oma tahun 1970, hanya dihadiri oleh ayah Ompung. Ibu Ompung yang belum kuat menerima kebenaran ini memutuskan tidak hadir. Sangat sulit bagi ibu Ompung untuk menghadapi “tekanan adat” khususnya dari pihak keluarga saudara-saudaranya. Ibu Ompung bercerita tentang pengalamannya diolok-olok oleh pihak saudara-saudaranya sampai-sampai ibu Ompung menangis dalam suatu pesta adat. Untuk melakukan kebenaran memang sering kita harus menderita. Ompung dan Oma tidak mungkin kembali kepada nilai-nilai kegelapan (adat yang melanggar firman) karena sudah ada dalam terang Tuhan yang ajaib.

2.      Mengapakah masih ada pemberian marga Batak pada pernikahan lintas suku?
Mungkin mereka yang melakukannya belum mendapat pencerahan Roh Kudus tentang kebenaran firman Tuhan, atau mereka menolak kebenaran itu, atau alasan khusus lainnya sesuai hubungan mereka dengan Tuhan. Tiap orang akan menghadapi penghakiman Tuhan. Banyak orang Batak beragama Kristen, sadar atau tidak sadar lebih mementingkan adat Batak lebih dari pada mengikuti kehendak Kristus. Keluarga kita harus lebih mementingkan menyenangkan Tuhan Yesus Kristus dari pada manusia, meskipun untuk itu kita harus menderita.

3.      Mengapakah Ompung/Oma menghindari adat Batak?
Seperti diterangkan sebelumnya, adat Batak itu aslinya merupakan tradisi orang Batak yang belum mendengar Injil Yesus Kristus sehingga bertambah lama bertambah jelas bahwa adat itu pada dasarnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Indikasi tentang hal ini dapat terlihat antara lain dalam hal:

1)      Adat Batak bersifat eksklusif, hanya untuk orang Batak. Orang lain harus jadi orang Batak dulu (diberi marga Batak) baru bisa masuk dalam sistem adat Batak. Ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam Kristus tidak ada lagi sekat pemisah diantara manusia, bahkan orang Yahudi yang percaya kepada Kristus pun tidak boleh eksklusif (Yoh 10:16; 17:21; Ef 2:14; Gal 3:28).

2)      Adat Batak dibangun dengan konsep tiga pilar yang bersifat hirarkis yakni hula-hula (keluarga besar pihak mertua), dongan tubu (keluarga besar satu marga) dan boru (keluarga besar pihak menantu). Konsep hirarkis tidak cocok untuk keluarga Tuhan. Keluarga Tuhan merupakan persekutuan dari orang-orang percaya dari berbagai etnis dan dengan beraneka ragam karunia, tidak hirarkis dan dibangun hanya diatas dasar Kristus. Semua orang percaya adalah hamba Tuhan (Kol 3:24b) dan semuanya adalah pelayan Kristus sesuai talenta dan karunia Roh yang ada pada masing-masing.

3)      Orientasi adat Batak berfokus kepada aspek hagabeon (banyak anak), hamoraon (kekayaan) dan hasangapon (kehormatan), yang pada dasarnya merupakan keinginan daging. Orientasi keluarga Tuhan berfokus kepada kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Rm 14:17) yang merupakan kenginan roh dan bertentangan dengan keinginan daging. Buahnya juga berbeda. Acara adat sering menyebabkan perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan,  kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Sedangkan buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri (bnd Gal 5:19-23).

4)      Adat Batak bertujuan untuk melestarikan budaya/tradisi orang Batak dengan segala kebanggaannya, sedangkan keluarga Tuhan bertujuan untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah yang telah memindahkan kita dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib (bnd 1Ptr 2:9).


Jadi, baik sifatnya, konsepnya, orientasinya dan tujuannya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita pengikut Tuhan yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

 

4.      Apakah salah kalau kita ikut dalam acara adat Batak?

Kita anak-anak Allah tidak hidup lagi menurut kehendak daging melainkan menurut kehendak Roh. Roh Kudus yang memimpin kita dalam mengambil keputusan, dan kendali-Nya adalah damai sejahtera Kristus dalam hati kita (Kol 3:15). Kalau Tuhan yang menyuruh dan tujuannya untuk memenangkan orang bagi Tuhan Yesus, maka hal itu tidak salah. Tapi kalau yang menyuruh adalah “daging” bukan Roh, atau tujuannya adalah memuaskan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, maka hal itu jelas salah. Kehadiran kita dalam acara adat Batak haruslah secara nyata memuliakan Kristus.

5.      Bagaimana melakukan acara pemakaman tanpa adat Batak?
Hal-hal yang utama dan perlu dipertimbangkan termasuk:

1)      Pengambilan keputusan.
Keputusan untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan pemakaman harus diambil oleh keluarga inti. Keluarga besar dan semua yang mengasihi kita termasuk keluarga satu marga dapat memberi saran, tetapi keputusan tetap ada pada keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan menantu. Dengan demikian tradisi “martonggo raja” yakni pertemuan adat untuk menentukan acara pemakaman, tidak perlu ada. Kalau keluarga inti memerlukan saran, dapat dimintakan dari saudara-saudara kandung dan dari kawan-kawan persekutuan/ pelayanan. Sebagai keluarga Tuhan, pendapat dari kawan-kawan persekutuan sangat berharga. Ompung/Oma mempunyai kawan-kawan persekutuan yang tiap minggu bersama-sama berdoa, belajar Alkitab dan melayani sebagai pengikut Kristus.

2)      Penentuan tempat/ rumah duka.
Di kota-kota besar umumnya banyak rumah sakit atau Yayasan tertentu menyediakan fasilitas sebagai rumah duka. Penggunaan fasilitas rumah duka sangat membantu keluarga yang berduka karena segala-sesuatu urusan pemakaman tersedia, tidak perlu buat tratak, pinjam kursi dsb, dan tidak mengganggu kenyamanan lingkungan di rumah tinggal. Masalahnya adalah sering ada juga pihak lain yang menyewa fasilitas rumah duka sehingga giliran acara harus diatur agar tidak saling mengganggu. Salah satu pertimbangan menggunakan rumah keluarga kalau memungkinkan adalah para tetangga dapat menyaksikan acara pemakaman kristiani yang berdasarkan Injil damai sejahtera, dan bukan acara adat yang bersangkut-paut dengan tradisi agama suku. Keluarga inti perlu menimbang semua hal terkait termasuk biaya, dan mengambil keputusan dengan sehati sepikir dalam Tuhan. Keputusan keluarga inti harus segera disampaikan kepada petugas gereja. Pada dasarnya tempat tidak menjadi persoalan apakah di rumah keluarga atau di rumah duka yang ada. Yang penting Kristus secara nyata dimuliakan. Semua acara dari awal hingga pelepasan jenazah dilakukan di tempat/rumah duka yang dipilih, tidak perlu ada acara pelepasan jenazah di gedung gereja.

3)      Waktu pemakaman.
Pemakaman dilakukan sesegera mungkin atau dalam waktu 24-36 jam terhitung mulai waktu meninggal. Batas waktu ini sudah memperhitungkan saat meninggal pagi, siang, sore, atau malam hari. Kalau harus bermalam, janganlah bermalam lebih dari satu malam. Kebiasaan berhari-hari menghadapi mayat karena alasan adat atau menunggu keluarga, perlu ditinggalkan. Kalau ada anggota keluarga inti yang sedang di luar negeri atau di tempat jauh di dalam negeri dan tidak memungkinkan untuk tiba dalam 36 jam, dia bisa mengikuti melalui sarana komunikasi yang sudah ada atau melalui dokumentasi saja. Kita tidak boleh menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga untuk mengurus/menunggui jenazah karena yang meninggal itu sudah menetap dengan Tuhan, tidak ada lagi di mayatnya. Kita harus menunjukkan kasih kita kepada keluarga selama masa hidupnya, dan tidak patut membiarkan jenazah orang yang kita kasihi bersama anggota keluarga lainnya yang berduka harus menunggu lama-lama. Keluarga kita yang meninggal itu tidak pentingkan lagi apakah kita hadir atau tidak hadir, karena ia sudah menetap dengan Tuhan.

4)      Biaya pemakaman.
Kesederhanaan dan kerendahan hati adalah bagian dari hidup yang sepadan dengan Injil Kristus. Keinginan daging keinginan mata dan keangkuhan hidup tidak sepadan dengan Injil. Karena itu sedapat mungkin diusahakan sederhana, tidak berlebihan, dan tidak boleh berpesta-pora. Kebiasaan adat yang menonjolkan keinginan daging sebagaimana misalnya terlihat dari biaya “make up” jenazah yang besar dan biaya konsumsi yang membengkak harus dihilangkan.
Dana yang ada dalam keluarga kita adalah milik Tuhan, kita hanya pengelola saja dan kita harus menjadi pengelola yang menyukakan Tuhan. Ada gereja yang melayani pemakaman anggotanya dengan mengeluarkan biaya sekitar tiga juta rupiah sudah termasuk peti, kuburan dan semua acara gerejawi, diluar biaya rumah duka dan transport yang ditanggung anggota.  Angka ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan biaya pemakaman dengan cara adat. Kita perlu meneladani kesederhanaan yang dipraktekkan gereja sebagai tubuh Kristus, namun tidak boleh membebani gereja untuk biaya pemakaman keluarga kita. Biaya pemakaman sepenuhnya dibebankan kepada keluarga inti dan jangan membebani gereja. Ini perlu disampaikan kepada petugas gereja, agar semua biaya pengurusan pemakaman dibebankan kepada keluarga inti bukan ke gereja. Adalah menyukakan Tuhan kalau kita tidak membebani gereja (bnd 1Tim 5:4) agar gereja dapat menolong lebih banyak orang miskin yang tidak mempunyai keluarga yang dapat menolongnya.

5)      Peti jenazah.
Perlu dipilih yang sederhana dan cepat membusuk bukan yang mahal dan lama membusuk. Hal ini juga berkaitan dengan pengelolaan dana yang menyukakan Tuhan. Keputusan ilahi bahwa manusia dari debu tanah dan kembali ke debu tanah tidak perlu dihambat prosesnya dengan peti mati “abadi” yakni yang awet sepanjang masa.

6)      Pemilihan tempat pemakaman.
Hendaklah dipilih tempat pemakaman yang terdekat. Tiap kota mempunyai Taman Pemakaman Umum (TPU), dan TPU terdekat lah yang paling tepat dipilih. Hal ini berkaitan dengan aspek kesederhanaan dan agar orang yang terlibat dalam acara pemakaman tidak perlu perjalanan jauh yang memerlukan banyak waktu, tenaga dan biaya.

7)      Pernyataan simpati.
Satu buku pernyataan simpati dapat disediakan di rumah duka. Setiap orang boleh menuliskan pernyataan yang memuliakan Tuhan dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Biaya untuk bunga dan sumbangan uang  disarankan agar disalurkan ke panti-panti asuhan yang terdekat. Saran dapat dituliskan pada papan pengumuman yang tersedia dan atau pada pemberitahuan di media masa. Kotak sumbangan yang menjadi kebiasaan umum (bukan orang Batak) di beberapa kota tidak perlu diadakan. Sebagai keluarga kita harus saling menolong mencukupi keperluan kita dan tidak perlu membebani orang lain.

8)      Pemberian kasih/persembahan khusus.
Kalau keluarga inti mempunyai dana lebih dari standar gereja yang disebutkan dalam butir 4, hendaklah jangan digunakan untuk pesta adat, tetapi hendaklah sebagian digunakan untuk pemberian kasih/persembahan khusus. Sebagai pernyataan kasih kita kepada Tuhan dan kepada anggota keluarga kita yang meninggal, adalah baik kalau kita mempersembahkan sesuatu secara khusus untuk Tuhan. Persembahan khusus  ini menggambarkan kasih kita kepada Tuhan dan keluarga Tuhan di dunia (bnd 1Tw 29:3). Dalam hal ini kita melakukannya bukan sebagai hukum tetapi sebagai ungkapan hati yang tulus. Jumlah yang disisihkan haruslah menggambarkan kasih yang besar dan ucapan syukur yang melimpah. Pemberian kasih ini hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan sukacita, tidak dengan sedih atau merasa terpaksa, karena Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2Kor 9:7). Sebagai ancar-ancar, sebaiknya jumlahnya sama atau lebih dari jumlah biaya pemakaman. Distribusi dapat mencakup:
a) Dukungan untuk pelayanan gereja.
b) Penginjil atau persekutuan/lembaga penginjilan.
c) Pengajar Firman atau lembaga pendidikan dengan ajaran yang alkitabiah.
d) Anggota keluarga yang diketahui miskin.
e) Orang-orang miskin pada umumnya, yang berpapasan dengan keluarga inti.

9)      Acara
Semua acara haruslah sepadan dengan Injil Kristus, tidak ada sedikitpun unsur-unsur adat Batak sipelebegu atau yang dapat dipersepsi berhubungan dengan itu. Kristus harus secara nyata dimuliakan, tidak samar-samar. Karena itu petugas gereja (Unit Kerja Pelayanan Kematian) perlu segera dihubungi dan diserahi peran utama untuk mengurus secara gerejawi, bebas dari noda-noda kekafiran. Acara yang dapat dilakukan antara lain:

a)      Sementara proses atau segera setelah menghembuskan nafas terakhir, salah seorang anggota keluarga atau kawan persekutuan yang hadir berdoa secara singkat dengan sikap percaya dan berserah. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.

b)      Pertemuan dengan petugas gereja dan perwakilan keluarga inti, dimana disampaikan kesepakatan keluarga inti tentang rumah duka, waktu pemakaman, TPU yang dipilih, transport, acara gereja dll. Biaya yang diperlukan dapat langsung diserahkan atau disepakati cara penyerahannya.

c)      Acara persiapan jenazah dibawah pengawasan petugas gereja dan keluarga inti.

d)     Acara setelah jenazah tiba di rumah duka, doa singkat dan nyanyian rohani.

e)      Acara memasukkan ke dalam peti mati: nyanyi dan doa. Jangan sampai ada Alkitab dalam peti mati, karena Alkitab adalah untuk dibaca orang hidup.

f)       Acara penghiburan secara informil dari pihak mana saja selama masa menunggu pemakaman. Diselingi nyanyian rohani dan ucapan terima kasih atas nama keluarga oleh anggota keluarga yang hadir. Untuk acara ini adalah baik bila tersedia nyanyian rohani dan Alkitab untuk digunakan setiap saat selama masa menunggu. Setiap orang atau keluarga atau persekutuan dapat menggunakan waktu luang ini untuk menyaksikan kasih Tuhan yang menguatkan sesuai berita Injil damai sejahtera, sehingga semua orang diberkati melalui acara kedukaan.

g)      Acara Ibadah penghiburan diatur oleh petugas gereja. Tergantung waktu yang ada, ibadah ini dapat sekaligus sebagai ibadah pelepasan jenazah.  Kata sambutan atas nama keluarga oleh salah seorang keluarga dekat atau keluarga inti.

h)      Acara Ibadah pelepasan jenazah diatur oleh petugas gereja. Daftar kata sambutan disusun bersama petugas gereja. Kata sambutan atas nama keluarga oleh salah seorang keluarga dekat atau keluarga inti.

i)        Acara Ibadah pemakaman di kuburan, diatur oleh petugas gereja. Ucapan terima kasih atas nama keluarga oleh salah seorang keluarga dekat atau oleh keluarga inti sekaligus mengundang untuk hadir dalam acara ibadah pengucapan syukur. Bila ada biaya yang masih terhutang kepada petugas gereja harus diselesaikan segera setelah pulang dari pemakaman.

j)        Acara Ibadah pengucapan syukur diatur oleh petugas gereja. Kata sambutan atas nama keluarga oleh keluarga inti. Persembahan khusus keluarga yang diperuntukkan bagi pelayanan gereja diserahkan kepada pihak gereja.

k)      Acara pasca pemakaman. Orang yang meninggal dalam Tuhan tinggal menetap pada Tuhan, ia tetap hidup dalam Tuhan, tidak ada lagi di kuburannya. Karena itu janganlah mencari dia di kuburan, karena dia tidak mati. Kita tidak patut mencari yang hidup diantara orang mati (bnd Luk 24:5). Kita harus tekun dalam persekutuan orang percaya karena disitulah kita dekat dengan orang yang dalam Tuhan. Tuhan kita yang pada-Nya orang yang kita kasihi itu tinggal menetap, berjanji hadir ditengah-tengah orang percaya yang berkumpul dalam nama-Nya.

Daftar pengingat pemakaman dapat dibuat untuk menolong mengingatkan hal-hal yang disebutkan di atas.

2.      Bagaimana melaksanakan acara pernikahan?


Yang berperan mengatur adalah keluarga inti (ayah,ibu, anak/menantu) kemudian saudara kandung ayah, saudara kandung ibu, orangtua ayah/orangtua ibu yang masih hidup (ompung dari yang menikah), kawan persekutuan/pelayanan ayah/ibu, dan keluarga dekat lainnya. Berbeda dari adat Batak, kawan semarga yang merupakan keturunan leluhur puluhan generasi sebelumnya, tidak lagi berperan untuk mengatur. Jadi tanggungjawab memperhatikan keluarga bukan pada kawan semarga melainkan pada keluarga inti dan keluarga dekat dan tentunya juga anggota keluarga Tuhan yang paling dekat dengan keluarga inti.
Masalah yang bersifat prinsip dapat muncul jika pihak besan menghendaki acara pernikahan dengan adat Batak. Hal ini seharusnya dapat diselesaikan pada tahap pendekatan tidak resmi, dimana kita memberikan alasan kita berdasarkan keyakinan iman dan takut kepada Tuhan. Kita dapat menunjukkan apa yang kita amati dalam banyak keluarga yang terbelenggu dengan adat, antara lain:

·         Tidak ada damai sejahtera dalam keluarga. Hal sepele pun dapat menjadi alasan untuk bermusuhan, seperti halnya leluhur Batak yang sering berseteru antar marga/desa. Pengampunan yang dikehendaki oleh Tuhan hampir mustahil dapat dinikmati.

·         Adanya perilaku buruk/aneh yang sulit dijelaskan namun perilaku seperti itu memang kita tahu terdapat pada garis keturunan (sifat turunan).

·         Adanya kecenderungan poligami yang dilarang Tuhan. Leluhur cenderung poligami dengan dalih tidak punya anak laki-laki.

·         Adanya perhambaan kepada adat. Adat menjadi segala-galanya. Mati-matian untuk adat.

·         Adanya kemalangan-kemalangan yang sulit dijelaskan secara normal.

·         Tidak dapat maju dalam hidup rohani menuju keserupaan dengan Kristus sesuai kehendak Allah. Kalau pun menjadi pengurus gereja, hal itu tidak lebih dari sekedar pelengkap saja dari adat. Lebih mengutamakan hadir dalam acara adat dari pada hadir dalam persekutuan. Masih dibawah perhambaan dosa, tidak bisa hidup penuh Roh yakni penuh doa, penuh firman, penuh persekutuan/ pelayanan/ kesaksian. Dari hidupnya tidak muncul buah Roh yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Kita percaya tidak ada orangtua yang mengasihi anaknya akan mau melihat keturunannya mengalami “kutuk keturunan” seperti itu (bnd Kel 20:5-6). Hanya kalau masalah yang bersifat prinsip ini dapat diselesaikan, maka langkah menuju pernikahan dapat dilanjutkan.

Hal-hal utama dan perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pernikahan termasuk:

1)      Pengambilan keputusan.
Keputusan untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan harus diambil oleh keluarga inti. Keluarga dekat dapat dilibatkan dan dimintai nasihat, tetapi keputusan harus tetap pada keluarga inti.

2)      Tempat
Tempat resepsi pernikahan disepakati oleh keluarga inti kedua belah pihak dengan cara sehati sepikir dalam Tuhan.

3)      Waktu
Hari dan jam pemberkatan dan resepsi disepakati kedua belah pihak dengan cara sehati sepikir dalam Tuhan.

4)      Biaya
Prinsip kesederhanaan sebagaimana disebutkan sebelumnya juga berlaku untuk acara pernikahan. Kita tidak boleh menjadi hamba uang melainkan harus mencukupkan dengan apa yang ada (bnd Ibr 13:5-6). Pesta pora tidak sepadan dengan Injil Yesus Kristus (bnd Gal 5:20). Jumlah biaya dan sumber dananya disepakati kedua belah pihak dengan cara sehati sepikir dalam Tuhan.  

5)      Pemberian kasih/persembahan khusus.
Petunjuk untuk hal ini adalah seperti dijelaskan sebelumnya. Jumlah yang disisihkan haruslah menggambarkan kasih yang besar dan ucapan syukur yang melimpah. Sebagai ancar-ancar, dapat dibuat menjadi tekad keluarga inti bahwa jumlahnya kira-kira tidak jauh berbeda dari jumlah biaya resepsi pernikahan. Maksudnya adalah agar dalam merencanakan resepsi, kesederhanaan kristiani tetap diingat dan pesta pora dihindari.

6)      Acara

a)      Segera setelah kedua calon mempelai meyakini kehendak Tuhan bagi mereka untuk membentuk keluarga, mereka memberitahukannya secara informil kepada keluarga inti masing-masing untuk didoakan. Keluarga inti memohon petunjuk Tuhan untuk hal yang sangat penting ini. Kalau keluarga inti sudah mendapat petunjuk Tuhan dengan jelas maka dapat dilakukan acara persekutuan doa keluarga inti sebagai tanda dimulainya kegiatan tindak lanjut. Pihak besan pun diharapkan melakukan hal serupa.

b)      Acara pendekatan informil berupa komunikasi dengan pihak besan untuk menyepakati rencana tindak lanjut yang diperlukan. Daftar pengingat acara pernikahan dapat dibuat dan digunakan sebagai acuan. Tujuannya adalah agar kedua keluarga inti sehati sepikir dalam Tuhan.

c)      Acara pemberitahuan kepada keluarga dekat kalau mungkin melalui kunjungan rumah ke saudara kandung ayah, saudara kandung ibu, orang tua ayah/ibu yang masih hidup.

d)     Acara meminang secara resmi, sesuai kesepakatan kedua keluarga inti. Rencana katekisasi pernikahan sebagai bagian dari persiapan pemberkatan perlu disepakati.

e)      Acara persiapan catatan sipil, pemberkatan dan resepsi pernikahan sesuai daftar pengingat, dan sesuai kesepakatan dengan pihak besan, termasuk pembentukan panitia. Panitia memakai daftar pengingat sebagai acuan. Kalau ada hal penting yang tidak tercantum dalam daftar dan perlu keputusan, keluarga inti yang harus memutuskan, dan kalau hal itu berkaitan dengan pihak besan maka kedua keluarga inti yang harus memutuskan.

f)       Acara pemberkatan nikah diatur oleh petugas gereja dan panitia. Persembahan khusus yang dialokasikan untuk pelayanan gereja dapat diserahkan pada atau selesai acara ini.

g)      Acara resepsi pernikahan diatur panitia.

h)      Acara wisata keluarga baru. Setelah selesai resepsi, keluarga baru berangkat ke tempat liburan yang dipilihnya.

i)        Keluarga baru memasuki tempat kediaman yang sudah direncanakan sebelumnya agar mereka belajar mandiri sebagai suami isteri dengan dukungan kasih dari kedua keluarga inti (bnd Kej 2:24).

j)        Acara penyambutan oleh keluarga dekat. Keluarga baru disambut dalam acara pengucapan syukur keluarga dekat sekaligus mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat.

Daftar pengingat acara pernikahan akan menolong dalam pelaksanaan acara ini.

3.      Berkat untuk keturunan:


Ompung menuliskan ini semua dengan doa agar segala berkat yang dijanjikan Tuhan bagi keturunan orang benar dapat dinikmati anak cucu Ompung. Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak berada lagi dalam kutuk dosa, karena Kristus sudah menjadi kutuk karena kita. Sebagai umat yang telah diselamatkan, kita akan menikmati berkat yang dijanjikan itu dengan hidup mengasihi Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan kita Yesus. Tentu saja yang paling membuat kita bersukacita adalah bahwa oleh anugerah-Nya nama kita telah terdaftar di surga, sebagaimana nyata dalam hidup kita yang melakukan kehendak Bapa sorgawi (Mat 7:21).

Dengan pola hidup yang Ompung/Oma pilih dan yakini selama ini, terutama dalam sikap yang tidak kompromistis terhadap adat Batak yang bertentangan dengan Injil Yesus Kristus, maka Ompung tidak mewariskan kutuk keturunan kepada anak cucu Ompung sebagaimana ayah Ompung juga tidak mewariskannya kepada Ompung. Urusan anak cucu Ompung adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan melakukan segala perintah Tuhan kita Yesus. Perintah-perintah Tuhan itu tidak berat karena kita telah lahir dari Allah dan dianugerahi iman yang dapat mengalahkan dunia (1Yoh 5:3-4). Itulah hidup yang bahagia dan penuh berkat. Hidup dalam damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.

PENUTUP


Sejak Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Ompung tahun 1960-an, dan Ompung mulai menikmati keselamatan yang dari Tuhan itu, dengan cara-Nya sendiri Tuhan terus mengingatkan Ompung: “Waktumu tidak lama”. Ompung sadar bahwa waktu Ompung sebenarnya adalah perpanjangan waktu dari Tuhan untuk tugas yang Tuhan tentukan. Waktu perpanjangan itu sudah menuju tahap akhir. Gejala-gejala “hari-hari yang malang” yang disebutkan dalam kitab Pengkotbah pasal 12 atau “manusia lahiriah semakin merosot” dalam 2Kor 4:16,  sudah semakin nyata dirasakan. Tuhan yang setia akan memeliharakan Ompung sampai tiba di ujung perjalanan hidup ini dan beralih untuk menetap pada Tuhan, dimana Ompung juga menantikan anak cucu Ompung tiba pada waktu masing-masing setelah menyelesaikan tugas di dunia ini.

Kalau Tuhan sudah memutuskan bahwa sudah waktunya Ompung beralih menetap pada-Nya (bnd 2Tim 4:7; 2Ptr 1:14), Ompung ingin semua anak cucu Ompung ikut bersukacita dan tidak membuat upaya-upaya yang biasanya dilakukan oleh manusia biasa yakni berusaha mati-matian untuk tidak mati tetapi akhirnya mati juga. Kematian bagi orang yang dikasihi Tuhan bukanlah kemalangan yang harus ditolak mati-matian. Ompung lebih pentingkan anak cucu Ompung berdoa disekeliling Ompung dari pada dikelilingi para petugas medis yang berusaha mati-matian di rumah sakit/ICU. Yang paling penting bagi Ompung adalah Yesus Kristus secara nyata dimuliakan baik oleh hidupku maupun oleh matiku. Kalau Ompung tidak sadar lagi pada akhir hidup, anak cucu Ompung lah yang menjaga bahwa Yesus Kristus secara nyata dimuliakan pada waktu Ompung tidak sadar, waktu meninggal dan waktu dimakamkan sesuai pesan ini. Yang paling Ompung rindukan adalah agar anak cucu Ompung tetap hidup dalam kebenaran, dan agar Ompung dimampukan Tuhan untuk berkata di akhir hidup:

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim 4:7-8 TB)

Terpujilah TUHAN selama-lamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] “Ompung” dalam bahasa Batak berarti kakek (ompung doli) atau nenek (ompung boru). Istilah untuk “kakek” dalam bahasa Minahasa (Manado) adalah “Opa” sedangkan “nenek” adalah “oma”. Untuk tulisan ini Ompung adalah kakek atau ompung doli, sedangkan Oma adalah nenek atau ompung boru.
[2] Secara harfiah  sipele begu berarti orang yang memberi makanan kepada  hantu  (sipele” berarti pemberi makanan, “ begu” berarti hantu) yang dipercayai sebagai roh leluhur yang bisa marah dan menghukum orang kalau “adat”nya atau tradisi yang ditetapkannya dilanggar.
[3] Julukan “ndang maradat” yang berarti tidak tunduk pada adat, bagi banyak orang Batak merupakan penghinaan yang tidak tertahankan sehingga banyak yang mati-matian mau membayar mahal biaya acara adat agar tidak mendapat julukan itu.
[4] J.T.Nommensen, Barita ni Ompu i Ephorus Dr.I.L.Nommensen, (Pematangsiantar: Firma Parda), hlm 51-53.
[5] Istilah “gondang” mencakup keseluruhan acara adat dengan menggunakan alat-alat musik Batak seperti taganing (gendang), ogung (gong), sarune (terompet) dll yang dimainkan sesuai pola tradisi yang sudah mapan dari agama suku Batak dan merupakan peninggian atau pemujaan nenek moyang. Ada orang Batak yang menyediakan makanan ditempat tertentu pada waktu pesta gondang yang dimaksudkan untuk leluhurnya yang sudah meninggal.
[6] “Margondang” dalam hal ini berarti melaksanakan acara adat Batak secara penuh dengan gondang.
[7] Ef 6:10-18a
[8] Ef 4:11-15
[9] Lothar Schreiner, “Adat dan Injil” (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1996) hlm 182.
[10] Eta Linnemann, Teologi Kontemporer (Malang: Institut Injil Indonesia, 1991), hlm 12.
[11] Syarat untuk menjadi penatua dan diaken sangat jelas dalam 1Tim 3: 1-13 dan Tit 1:6-9.
[12] John Ruck dkk, Jemaat Misioner (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2011) hlm 225-229 menjelaskan bagaimana kesehatian dalam Tuhan dapat dicapai secara praktis.
[13] Sebagai contoh, Edward B.Hutauruk, “Adat Batak” (Tarutung:TASOM, 1996) hlm 9-38 antara lain menyatakan sebagian besar adat istiadat itu telah dimasuki roh-roh jahat, darah (namargota) tidak boleh dimakan, mangulosi tidak perlu, kebiasaan pemberian marga adalah keangkuhan. Pdt.A.H.Parhusip, “Jorbut ni Adat Batak Hasipelebeguon” (Porsea: GSJA Pemenang, 1996) hlm 10- 42 antara lain menyatakan seluruh adat Batak tidak lepas dari hasipelebeguon (penyembahan roh orang mati) dan pekerjaan daging, acara manggondangi/manortori orang mati adalah kesesatan, umpasa Batak adalah kata-kata yang hampa yang datangkan murka Allah (Ef 5:6), ulos Batak harus dijauhi, tidak boleh menggandengkan adat Batak dengan kekristenan.
[14] Lothar Schreiner, “Adat dan Injil” (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1996) hlm 182-226 antara lain menyatakan tugu-tugu yang menjamur secara mencolok sejak tahun limapuluhan berkaitan dengan perwujudan pemujaan nenek-moyang yang seharusnya mendapat perhatian orang percaya, orang Kristen harus menggumuli hidup yang berdasarkan Injil. Pdt.Ir.Mangapul Sagala, D.Th., “Injil dan Adat Batak” (Jakarta:Yayasan Bina Dunia, 2008) hlm 60- antara lain menyatakan orang Kristen harus bersikap selektif dan terus menerus membaharui adat, acara-acara adat dilakukan dengan pemaknaan yang baru, misalnya ulos dianggap sebagai alat yang indah, yang melaluinya kita memohonkan berkat kepada Allah, dsb.
[15] Keberatan dari mereka yang anti-adat seringkali berdasarkan penafsiran yang tidak tepat tentang ayat-ayat yang dikutip (Sagala, hlm 70). Hal ini dapat terlihat dalam buku-buku yang ditulis saudara-saudara dari golongan pentakosta/karismatik. Begitu juga halnya dari pihak yang pro-adat, sering menggunakan ayat-ayat pembenaran yang tidak “nyambung” seperti dalam hal “tulang-tulang Yusuf”(Sagala, hlm 104).
[16] Dalam Bibel bahasa Batak 1Kor 13:5 diterjemahkan “Maradat situtu do haholongon i...” artinya kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, bukan berarti  “kasih itu harus melakukan adat Batak”.
[17] Pesta gondang ini hanya dapat dilakukan bila yang meninggal itu mempunyai anak-anak yang menurut ukuran adat Batak dianggap berhasil, tidak boleh dilakukan untuk orang yang tidak mempunyai keturunan.
[18] Bonapasogit berarti kampung halaman tempat orang Batak berasal.
[19] Mangongkal holi merupakan suatu kebiasaan menggali kembali tulang-belulang dari anggota keluarga untuk dikumpulkan dalam tugu keluarga di Bonapasogit.
[20] Biasanya harus tunggu pihak Tulang dulu baru bisa masukkan mayat ke petinya. Ada kalanya pihak Tulang susah dicari atau tidak ada, maka harus dicari yang semarga dengan pihak Tulang. Di perantauan hal ini tidak mudah.
[21] Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, anak, menantu.
[22] DNT terdiri dari 3 pihak yakni kawan semarga, pihak hula-hula yakni marga mertua, dan pihak boru yakni marga menantu. Struktur ini bersifat baku dalam adat Batak.
[23] Buku “Jemaat Misioner” ditulis satu tim penulis yang dikordinir oleh John Ruck, misionaris dari Inggris. Bab 6 dan Bab 12 sedikit banyak mencakup praktek hidup pelayanan Ompung dan Oma. Buku ada di perpustakaan keluarga.